Sunday, 8 May 2011

Ciri-ciri Generasi Rabbani


Perkataan ribbiyy dan rabbaniyy merujuk pada segolongan manusia yang mempunyai ilmu yang luas lagi mendalam berkenaan dengan agama. Dengan bekal ilmunya, ia tak pernah berhenti beramal demi mencari keridhaan Allah SWT. Selain itu, iapun mampu menjalankan amar ma'ruf nahi munkar, dengan penuh kesabaran serta istiqamah. Dalam Al Qur'an Allah SWT menyebut tentang golongan ini dalam beberapa tempat, semisal : Surat Ali `Imran ayat 146; Surat Al Maa-idah, ayat 44; Surat Al Maa-idah, ayat 43; Surat Ali 'Imran ayat 7; dan Surat Ali `Imran, ayat 79. Sibawaih, seorang ahli bahasa berpendapat : jika huruf alif dan nun ditambahkan pada perkataan ribbiyy, lalu menjadi rabbaniyy, menunjukkan mereka adalah golongan yang sangat mendalam ilmunya mengenai ketuhanan (Lisan al Arab).

Pada hari kematian Abdullah ibn Abbas r.a, telah berkata Muhamad ibn Ali ibn Hanafiyah “.. hari ini telah gugur seorang rabbaniyy dari umat ini.” Ibn Abbas r.a memang terkenal di kalangan sahabat berkat kedalaman dan keluasan ilmunya. Maka adalah wajar jika ia digelari insan rabbaniyy. Telah dikatakan pula oleh Ali bin Abu Thalib r.a : “Manusia itu terdiri dari tiga golongan : alim yang rabbaniyy, penuntut ilmu demi jalan kejayaan, serta orang hina pengikut segala keburukan.”

Di dalam al Taalim Imam Al Banna telah menegaskan bahwa umat mesti membentuk diri, agar menjadi insan kamil yang mempunyai aqidah sejahtera, ibadah yang sahih, akhlak yang mantap, pikiran yang berasaskan ilmu, tubuh yang kuat, hidup yang berdikari, diri yang berjihad, masa yang dihargai, tugas yang tersusun dan sentiasa memberi manfaat kepada orang lain. (Risalat al-Taalim, rukun al-Amal). Itulah kriteria figur generasi rabbani, menurut tokoh pelopor Ikhwanul Muslimin ini.

As-Syahid Sayyid Quthb dalam rumusannya mengenai generasi rabbani (dengan merujuk pada generasi sahabat era Rasulullah SAW ), mengemukakan tiga ciri penting dari generasi awal Islam itu, seperti : selalu membersihkan diri dari segala unsur jahiliyyah, sumber rujukan mereka yang utama hanyalah Al Qur'an Nur Karim, dan apa yang dipelajari semata-mata hanyalah untuk diamalkan.

Kelahiran generasi rabbani menjadi mungkin, jika umat tetap berpegang pada Al Qur'an dan Al Hadits. Diperlukan pula banyaknya murabi yang mempunyai keluasan dan kedalaman ilmu. Disamping itu, generasi rabbani akan terlahir jika banyak keluarga telah mencapai derajar sakinah, institusi pendidikan, masyarakat serta negara berkomitmen penuh atas tegaknya dakwah Islamiyyah. Usaha melahirkan kembali generasi ini di akhir jaman, merupakan ikhtiar suci yang memerlukan pengorbanan diri, waktu dan harta.

Source: Ust H. Abdul Muhaimin

Thursday, 28 April 2011

Teman Sejati


Seorang tabiin, Abu Muslim al-Khaulani, suatu saat masuk masjid dan tiba-tiba melihat sekelompok orang yang tengah berkumpul. Ia berharap bahwa mereka adalah kumpulan orang-orang yang tengah berzikir kepada Allah. Ia pun duduk, berbaur bersama mereka.

Namun, pembicaraan mereka ternyata hanya seputar anak-anak mereka. ''Anak saya melakukan ini,'' ucap mereka kepada sebagian yang lain. Sementara itu, yang lain berkata, ''Saya beri anak saya sesuatu.''

Beliau memandang mereka dengan penuh keheranan. ''Subhanallah! Tahukah kalian, apakah perumpaman aku dan Anda sekalian?'' tanya Abu Muslim al-Khaulani. ''Aku laksana seseorang yang ditimpa hujan sangat deras,'' ujarnya lebih lanjut.

''Aku pun mencari tempat berteduh, kemudian kutemukan sebuah rumah. Pikirku, alangkah baiknya kalau aku bisa berteduh di situ. Namun, sayang, ketika aku masuk, ternyata rumah itu tidak beratap. Aku hadir dengan harapan kalian mengingat Allah, tetapi nyatanya kalian hamba dunia.''

Pertemanan adalah kebutuhan sosial bagi tiap individu, sehingga orang sukses dalam berteman bisa dibilang sebagai orang sukses pula secara sosial. Namun, bagaimana agar kesuksesan horizontal itu juga menjadi kejayaan vertikal, di mana sebuah pertemanan bisa mengantarkan seseorang kepada Ilahi.

Bila di masa tabiin, Abu Muslim al-Khaulani pernah kecele dengan keriuhan banyak orang yang tampaknya bisa menjadi teman sejati, tetapi kehadiran mereka itu seperti fatamorgana, sebagaimana digambarkan dalam narasi di atas, Pada era seperti sekarang ini kita dituntut untuk lebih jeli dalam memilih teman dan komunitas sosial yang layak dijadikan wahana sosialisasi dan aktualisasi diri kita.

Sedemikian besarnya peran, seorang teman juga menjadi salah satu parameter baik dan buruknya seseorang. Nabi bersabda, ''Seseorang itu bergantung pada agama kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati memilih kawan pendamping.'' (HR Ahmad) Ketika dunia makin tidak berjarak dan hampir tanpa sekat, orang begitu mudah untuk berbaur satu sama lain, bahkan dalam tataran global, dengan segala motivasi yang menggerakkannya.

Mereka berpotensi menjadi teman sejati yang bisa mendongkrak kesalehan kita, menghaluskan nurani kita, dan meningkatkan spiritualitas kita. Namun, mereka juga bisa menjadi perangkap, pembawa kita ke kubang kenistaan. Bukankah telah banyak pihak yang mencoba menyusup ke dalam barisan kaum Muslimin, mereka bertujuan hanya untuk memorakporandakan kekuatan Islam?

Source:
Makmun Nawawi

Semoga Allah meridhai apa yang kita usahakan di dunia ini.
Salam hangat untuk semua sahabat Karisma ITB