Showing posts with label Untukmu Sahabat (GF Fikar). Show all posts
Showing posts with label Untukmu Sahabat (GF Fikar). Show all posts

Wednesday, 22 June 2011

Sahabat


Matahari sudah condong ke sebelah barat. Berdua dengan S, saya menyusuri jalan menuju stasiun. Pengumuman kereta akan segera datang telah terdengar, kami berdua semakin mempercepat langkah. Alhamdulillah masih bisa dikejar. "Kamu sudah beli karcis belum," tanya S. "Nggak sempat, nanti kucing-kucingan saja kalau ada petugas," jawab saya ringan, kaki sudah hampir masuk ke gerbong, tapi S malah menarik saya menjauhi kereta. Kereta berangkat. "Kenapa ngga beli karcis dulu," kali ini mukanya agak keruh. "Kan ngga sempat, lihat tuh, mana antri lagi, males," mata saya mengarah ke tempat penjualan karcis. "Ya sudah tunggu disini."

S bergegas pergi, dan dengan tidak enak hati saya memandangi punggungnya yang menjauh. "Berapa lama, waktu antri untuk membeli karcis," katanya ketika tiba di hadapan saya, tangannya menyodorkan karcis. "Sepuluh menit" singkat saya. "Gara-gara sepuluh menit, kamu bisa jadi antri di neraka". Drrrrr, gemetar juga ditembak telak seperti itu. "Dan saya nggak mau ikut-ikutan antri disana, gara-gara nggak ngingetin kamu," tambah S. Saya diam, kena setrum sepertinya. "Sudahlah, lain kali jangan curang!" perintahnya, kali ini dia memandang saya penuh arti.

Kalau terkenang dengan peristiwa tadi, saya selalu bergumam "Alhamdulillah... saya mempunyai sahabat". "Eh ada yang kangen ingin berjumpa dengan mu lho, mendengar rayuan mautmu, melihatmu mengemis memohon cinta. Ayo bangun. Tahajud euyy!!!" itu isi SMS dari seseorang yang baru saya kenal beberapa bulan. Pesan yang terus menerus dikirimnya selama hampir 1 minggu, pada jam 03.00 pagi, tidak kurang. Sebuah SMS yang sebelumnya diawali dengan misscall beberapa kali. Awalnya saya sempat merasa terganggu dan menyembunyikan HP dibawah bantal agar bunyinya tidak terdengar.

Ketika saya membalas SMS-nya dengan "Tidak sayang pulsa tuh, mengganggu ketenangan orang", SMS-nya pun datang, "lho katanya kamu sedang punya banyak masalah". Sangat singkat, mengingatkan bahwa 2 hari yang lalu saya curhat kepadanya. Sekarang, kala mengingatinya, juga selalu hati ini berujar "Alhamdulillah, saya memiliki sahabat yang demikian....".

Ini kisah yang saya dengar dari seorang muslimah. Suatu ketika, dia dan alumni pengurus Rohis SMA, berkumpul. Salah seorang rekan dari pengurus semasa Rohis (sebut saja A) baru saja meninggal, dan mereka baru tahu keadaan ekonomi keluarganya ketika melayat ke rumah A. Ternyata A ini tulang punggung ekonomi keluarganya, selain yatim, ibunya hanya berjualan ala kadarnya. Ibunya bercerita, salah seorang adiknya hampir mau ujian tapi karena tidak ada biaya, akhirnya gagal merampungkan sekolah.

Dibahaslah solusi untuk meringankan beban ibunda A, dengan sebelumnya beberapa rangkaian taushiyah bergulir. Semua yang hadir larut, banyak air mata di sana. Air mata cinta. Diakhir pertemuan, terkumpullah materi yang tidak sedikit, perhiasan, uang, sepeda motor, sepeda, dan sepasang sepatu baru. Kita pasti tahu kisah selanjutnya, si ibu tak henti menangis, dan hampir tersungkur di hadapan mereka. Allahu Akbar.

Sungguh kisah tadi seperti pesan yang disampaikan seorang ulama "Persahabatan antara orang-orang mukmin, menyatunya kalbu mereka, dan kecintaan yang terjalin diantara mereka merupakan karunia Allah bahkan juga termasuk taqarrub, dalam ketaatan yang paling agung" Dan Alhamdulillah, Almarhum A ini mempunyai sahabat seperti mereka...

Dunia menjadi penuh makna ketika kita mempunyai banyak sahabat. Dunia menjadi berpelangi tatkala banyak sahabat mengelilingi kita. Kahlil Gibran menyebut "Kesendirian adalah himpunan duka cita". Tentu saja, karena manusia dicipta untuk hidup dalam kebersamaan, seperti firman Allah "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian (terdiri dari jenis) laki-laki dan perempuan, dan Kami menciptakan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat:13).

Sekali lagi, banyak hikmah yang dapat kita reguk dari persahabatan. Dan juga perlu diingat, kita harus cerdik pula dalam memilihnya. Dalam era sekarang ini, ketika 'fenominul' begitu menyesakkan hati umat Muslim, menjamurnya narkoba, pesta muda-mudi, sepertinya kita butuh filter ampuh untuk memilih sahabat. Dan filter itu bisa begitu ampuh ketika kita mempunyai sahabat yang mampu mendekatkan diri kita kepada pemilik dari segala filter, Allah.

Memilih sahabat bukan berarti membeda-bedakan manusia. Memilah sahabat berarti kita menilainya dari karakter dan sifat yang dimilikinya. Sebuah persahabatan yang nantinya akan terjalin juga tidak seharusnya didasarkan pada parameter-parameter duniawi saja. Sungguh, ketika kita berjumpa dengan seorang yang berakhlak baik, menjaga shalatnya, maka itulah parameternya. Dan itulah yang dilakukan orang-orang shalih terdahulu dalam menimbang siapa saja yang pantas menjadi sahabat baginya.

Ayo, pikatlah sahabat sebanyak yang kita mampu. Sahabat yang tidak menjadikan kita, manusia yang disebut-sebut Al-Qur'an, "Pada hari si zhalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: Ah, seandainya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Malang nian, mengapa dulu aku menjadikan si fulan menjadi sahabat akrabku". (Al-Furqan 27-28)

Dan jangan lupa, "shalih sendiri" juga tidak bermanfaat, jadi pikatlah sahabat yang ketika dia mengenang kita, dia akan berujar "Alhamdulillah, saya mempunyai sahabat sepertimu..."

Akhirnya, saya sampaikan salam keselamatan untukmu yang berkenan membaca tulisan ini. Izinkan saya menyebutmu sebagai "sahabat". Saya ingin menggelarimu "sahabat", panggilan mesra Nabi al-Musthafa pada generasi setia di zamannya, sapaan akrab terdengar begitu merdu. Sebuah kosa kata indah yang saya temukan dalam buku "Berbagi cinta dengan para Sufi" sebagai kiasan bertubi untuk orang yang paling mempunyai makna. Dan sekarang, saya ingin mengadopsinya untuk anda yang sekali lagi berkenan membaca tulisan ini.

Sahabat, semoga Anda membendaharakan kata ini juga untuk saya. Dan ketika anda menjadi sahabat, tak akan pernah jengah anda memperingatkan, ketika saya salah melangkah.


Source: Tulisan seorang sahabat

Thursday, 28 April 2011

Teman Sejati


Seorang tabiin, Abu Muslim al-Khaulani, suatu saat masuk masjid dan tiba-tiba melihat sekelompok orang yang tengah berkumpul. Ia berharap bahwa mereka adalah kumpulan orang-orang yang tengah berzikir kepada Allah. Ia pun duduk, berbaur bersama mereka.

Namun, pembicaraan mereka ternyata hanya seputar anak-anak mereka. ''Anak saya melakukan ini,'' ucap mereka kepada sebagian yang lain. Sementara itu, yang lain berkata, ''Saya beri anak saya sesuatu.''

Beliau memandang mereka dengan penuh keheranan. ''Subhanallah! Tahukah kalian, apakah perumpaman aku dan Anda sekalian?'' tanya Abu Muslim al-Khaulani. ''Aku laksana seseorang yang ditimpa hujan sangat deras,'' ujarnya lebih lanjut.

''Aku pun mencari tempat berteduh, kemudian kutemukan sebuah rumah. Pikirku, alangkah baiknya kalau aku bisa berteduh di situ. Namun, sayang, ketika aku masuk, ternyata rumah itu tidak beratap. Aku hadir dengan harapan kalian mengingat Allah, tetapi nyatanya kalian hamba dunia.''

Pertemanan adalah kebutuhan sosial bagi tiap individu, sehingga orang sukses dalam berteman bisa dibilang sebagai orang sukses pula secara sosial. Namun, bagaimana agar kesuksesan horizontal itu juga menjadi kejayaan vertikal, di mana sebuah pertemanan bisa mengantarkan seseorang kepada Ilahi.

Bila di masa tabiin, Abu Muslim al-Khaulani pernah kecele dengan keriuhan banyak orang yang tampaknya bisa menjadi teman sejati, tetapi kehadiran mereka itu seperti fatamorgana, sebagaimana digambarkan dalam narasi di atas, Pada era seperti sekarang ini kita dituntut untuk lebih jeli dalam memilih teman dan komunitas sosial yang layak dijadikan wahana sosialisasi dan aktualisasi diri kita.

Sedemikian besarnya peran, seorang teman juga menjadi salah satu parameter baik dan buruknya seseorang. Nabi bersabda, ''Seseorang itu bergantung pada agama kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati memilih kawan pendamping.'' (HR Ahmad) Ketika dunia makin tidak berjarak dan hampir tanpa sekat, orang begitu mudah untuk berbaur satu sama lain, bahkan dalam tataran global, dengan segala motivasi yang menggerakkannya.

Mereka berpotensi menjadi teman sejati yang bisa mendongkrak kesalehan kita, menghaluskan nurani kita, dan meningkatkan spiritualitas kita. Namun, mereka juga bisa menjadi perangkap, pembawa kita ke kubang kenistaan. Bukankah telah banyak pihak yang mencoba menyusup ke dalam barisan kaum Muslimin, mereka bertujuan hanya untuk memorakporandakan kekuatan Islam?

Source:
Makmun Nawawi

Semoga Allah meridhai apa yang kita usahakan di dunia ini.
Salam hangat untuk semua sahabat Karisma ITB

Tuesday, 5 April 2011

Sebaris Nasihat Untukku & Sahabat


Sahabat,
Bersama kita mulai belajar
Untuk tidak memiliki sesuatu

Apa yang pernah Rabb berikan
Apa yang pernah Rabb kasihkan
Apa yang pernah Rabb titipkan
Semuanya milik yang Maha Rahmaan

Jadi adakah bagi kita alasan
Untuk merasa keberatan
Jika sebagian harta kita sisihkan
Jika sebegian kerat roti kita berikan
Jika sebagian waktu kita infakkan
Jika sebagian permata kita dermakan
Pada saudara kita yang lebih membutuhkan

Ataukah
Engkau merasa akan dilanda kemiskinan
Jika berbuat yang demikian



Sahabat
Bersama kita belajar
Untuk tidak dimiliki oleh sesuatu

Apa yang pernah Rabb sediakan
Apa yang pernah Rabb sandingkan
Apa yang pernah Rabb mudahkan
Semuanya dijadikan sebagai ujian
Untuk membuktikan bahwa cinta yang pernah kita ikrarkan
Tidak sebatas dalam ucapan

Haruskah kita lebih mencintai abi
Haruskah kita lebih mencintai umi
Haruskah kita lebih mencintai istri
Haruskah kita lebih mencintai puri
Haruskah kita lebih mencintai merci
Haruskah kita lebih mencintai deadline tak bertepi
Haruskah nyawa kita berakhir di ujung sepi

Mengapa engkau lebih mencintai dirimu sendiri
Ketimbang mencintai Rabb
Yang telah mengadakanmu di muka bumi

Mengapa engkau lebih mencintai semuanya ini
Ketimbang mencintai Rabb
Yang telah menyediakan semua yang kamu cintai di dunia ini

Ataukah
Engkau merasa
Bahwa engkau dipersulitkan
Bahwa engkau direpotkan
Bahwa engkau disiksakan
Karena yang engkau ingin adalah ketenangan
Karena yang engkau inginkan adalah keselamatan
Karena yang engkau inginkan adalah bersenang-senang

Tanpa pedulikan umat yang mulai dihujani tusukan
Tanpa pedulikan saudaramu yang mulai dilanda kelaparan
Tanpa pedulikan saudaramu yang kini mulai ditimpa kemusyrikan
Tanpa pedulikan saudaramu yang dalam setiap sujud ditemani mortir dan dentuman
Tanpa pedulikan risalahmu yang kini mulai dicincang
Sementara kamu hirup gratis hawa ini setiap pekan



Sahabat
Bersama kita belajar
Untuk berbuat sesuatu bukan karena sesuatu
Tetapi karena Rabbmu

Apa yang pernah Rabb perintahkan
Apa yang pernah Rabb larangkan
Apa yang pernah Rabb tunjukkan
Semuanya adalah hidayah yang harus kita jadikan tuntunan

Berbuat baiklah
Karena kita memang harus berbuat baik

Beramallah
Karena memang kita harus beramal

Berjuanglah
Karena memang kita diperintahkan

Bersujudlah
Karena memang kita harus bersujud di hadapan

Dan berbuatlah
Bukan karena engkau ingin dipuji
Bukan karena engkau ingin dicintai
Bukan karena engkau ingin dikenali

Dan berbuatlah
Lebih dari sekadar takut akan azab-Nya
Lebih dari sekadar harap akan jannah-Nya
Lebih dari sekadar rindu akan cinta-Nya

Tapi berbuat baiklah
Karena kita memang begitu tulus mencintai-Nya

Sahabat,
Di manakah ujung keihklasan
Ia ada dalam setiap nikmat
Yang benar-benar membekas dan dapat kamu rasakan

Maka, adalah sebuah keniscayaan
Jika kelak kamu dapat masuk dalam jannah-Nya
Melalui sekerat roti yang pernah kau sisihkan
Melalui setitik kebaikan yang pernah kamu berikan

Bukan karena sekerat roti yang kau dermakan
Tapi karena engkau kini mulai pahamkan
Akan arti satu dari sejuta nikmat yang kamu rasakan

Thursday, 31 March 2011

Sahabat Itu Kekayaan Sebenarnya


Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk mengembalikan kepercayaan diri setelah keterpurukan diri yang membuat garis hitam dalam catatan sejarah hidup saya. Catatan sejarah hitam yang tidak akan pernah bisa terhapus meski banyak air sudah yang keluar dari sudut mata, meski banyak doa yang saya harap bisa meringankan beban yang teramat berat menanggung malu dan dosa masa lalu.

Saat merasa seperti sendiri, saya menjelajahi bumi mencoba menemukan seseorang yang bisa membantu. Suatu saat, seorang guru saya menelepon dan mengabarkan kalau seleksi beasiswa yang saya ikuti ternyata diterima. Sungguh hal tersebut sangat menggembirakan hati, namun tetap saja catatan hitam itu takkan terhapus, Saya datangi ayah dan ibu untuk menceritakan semua gundah. Mereka yang dengan penuh kesabaran mendengarkan hingga huruf terakhir terucap dari lidah ini. Kemudian ibu bilang, "pergilah, raih apa yang ingin kau raih".

Kemudian, saya pun pergi ke sebuah kota yang bahkan tidak dipikirkan sebelumnya, meninggalkan daerah perkampungan yang selama ini mengiringi saya tumbuh hingga 18 tahun. Bukan hal yang mudah untuk bisa bertahan, selama satu tahun pertama, perasaan tentang betapa kotornya tubuh ini, betapa hinanya hati ini, dan betapa tidak berharganya hidup ini, terus terngiang di telinga. Desakan pikiran yang membuat dada ini semakin sesak adalah bahwa disini saya hanya sendirian, sendiri di dunia yang begitu asing, jauh dari rumah, jauh dari saudara, terlebih lagi yang begitu menyakitkan adalah jauh dari orang tua, terutama ibu, yang sedari kecil hingga lulus tak pernah jauh.

Apa sebenarnya tujuan hidup ini, apakah hanya seperti ini? melihat sekeliling yang serba mewah, glamour, bebas, seronok, apakah seperti ini sebenarnya hidup?

Di suatu saat ketika Ramadhan, saya di ajak oleh kakak untuk ikut MABIT di sebuah Masjid dekat kampusnya. Ya, kakak, Dialah orang yang selama setahun ini membuat saya bertahan, walaupun hati ini terus saja gelap, karena saya berpikir, "kakak tidak mungkin akan terus di samping saya". Perlahan, malu dan merasa kotor diri ini untuk memasuki masjid, dan seketika saya merasa diri ini tidaklah berharga saat melihat wajah-wajah bersih, sebagian besar wanitanya menutup kepala mereka dengan jilbab, apalah diri ini. "Mari masuk, selamat datang. Kehadiran Anda sangat kami nantikan disini" Sungguh sebaris kalimat yang sangat hangat terdengar.

Sejenak hati ini terpaku merasakan sentuhan persahabatan yang luar biasa dari tatapan, sapaan dan tangan terbuka dari semua yang berada di dalam masjid. Terlebih ketika seorang dari mereka, merangkul pundak saya, "Inilah kami, sebuah keluarga besar yang akan juga menjadi keluarga Anda." Saya seperti baru saja mendapat peluk cium dan kehangatan yang luar biasa, nyaris menandingi kasih yang selama ini saya terima dari ibu. Ada keluarga baru disini, sahabat-sahabat baru dengan senyum dan sapa cintanya.

Hari-hari sesudah itu membantu saya melupakan masa lalu, meringankan beban menanggung dosa masa lalu yang benar-benar tidak pernah bisa hilang dari kenangan. Sahabat-sahabat baru itu seolah tengah membantu saya mengangkat beban yang teramat berat meski hanya dengan senyum, tepukan di punggung atau menyediakan telinga mereka untuk tempat saya membuang sampah mulut ini. Ya, karena kadang yang saya bicarakan kepada mereka bisa jadi tak penting bagi mereka, tapi sungguh telinga mereka tetap tersedia untuk kisah-kisah tak penting saya.

***

Dimana pun saya berada, kemana pun saya pergi, satu yang terpenting untuk saya temukan, yakni sebuah kekayaan bernama sahabat. Tidak seorang pun yang paling beruntung di dunia ini melainkan ia yang memiliki sahabat. Karena sahabat ada, untuk mereka yang terluka, untuk mereka yang tengah memikul berat beban, untuk menghapus air mata yang berduka, membantu seseorang berdiri dari keterpurukan dan menyediakan sayapnya untuk terbang bersama.

Akhirnya, sampailah saya pada satu kepastian hakikat, bahwa sahabat adalah kekayaan sebenarnya. Hilang satu, miskinlah sudah. Bertambah satu, semakin beruntunglah. Terima kasih untuk semua sahabat, Anda adalah kekayaan saya sebenarnya.

Monday, 25 October 2010

Muslim Youth are Precious (Fikar)


Bismillaahirrahmaanirrahiim …

Semata-mata hanya ingin meramaikan, semoga bermanfaat …

Sesungguhnya kebenaran mutlak hanya milik-Nya, dan kesalahan berasal dari makhluk …

Pemuda Dalam Islam

Pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, penuh vitalitas, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil karena masa transisional psikologisnya (Ubedilah Badrun). Bagaimana Islam memandang Pemuda ? Pemuda memiliki rasa idealisme yang tinggi, berani menanggung resiko untuk keteguhan tujuannya, gesit, kuat, yang terpenting memiliki fitrah yang masih bersih (Q.S.18:13). Sebagai produk generasi yang serba ingin tahu, pemuda selalu menunjukkan kebolehannya dan kemampuannya dalam mencapai cita-cita meraih izzah (kemuliaan ) didunia maupun akhirat. Pemuda juga memiliki semangat tinggi dan kemampuan belajar, mudah menyerap kebaikan bahkan kemungkinan dapat terpengaruh oleh kejahatan. Islam sebagai agama yang tsumul sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda, al-Qur'an menceritakan tentang potret pemuda ashaabul kahfi sebagai kelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan mayoritas kaumnya yang menyimpang dari agama Allah SWT, sehingga Allah SWT menyelamatkan para pemuda tersebut dengan menidurkan mereka selama 309 tahun.

Kisah pemuda ashaabul ukhdud dalam Al-Qur'an juga menceritakan tentang pemuda yang tegar dalam keimanannya kepada Allah SWT sehingga menyebabkan banyak masyarakatnya yang beriman dan membuat murka penguasa. Jika kita mencermati usia para Nabi juga berusia masih muda. Ibnu abbas ra, berkata " tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah melainkan ia pilih dari kalangan pemuda saja (sekitar30-40 tahun) begitu juga seorang tidak alim pun yang diberi ilmu melainkan dari pemuda saja." (tafsir ibnu Katsir III/63). Banyak pula yang tercantum dalam Al-Quran, kisah-kisah para pemuda , diantaranya: Nabi yusuf, Musa, Ibrahim, dan lainnya. Dalam surat al-Anbiya 60" mereka berkata: kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama ibrahim." Selanjutnya kisah-kisah lainnya dapat kita lihat dan renungkan bagaimana Ibrahim menentang raja nambrud yang sangat kejam, bagaimana Daud mengalahkan Raja Jalut yang bengis dan berpengalaman tempur terhebat kala itu, bagaimana Musa dan Harun melawan Raja Firaun yang dzalim dan sombong, yang tega membunuh semua bayi laki-laki yang lahir tanpa berdosa itu untuk kepentingannya sendiri.

Disadari atau tidak masa muda adalah masa yang paling produktif bagi seorang insan. Maka sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakan begitu saja masa muda kita. Masa disaat fisik kita masih sangat kuat, sel-sel otak kita masih cerdas untuk menangkap materi-materi yang kita dapatkan, dan terutama masa yg akan dimintai pertanggungjawabanNya.

Dengan misi yang teramat berat diatas sebagai seorang pemuda muslim kita harus memiliki lima macam kriteria yang harus kita yakini sepenuhnya, yaitu :

1. Iman yang kuat

Jagalah dalam hati kalian agar Iman tidak mudah goyah dan surut. Sesuai firman Allah dalam QS Al-Hujurat : 15. Iman yang kuat, seperti pohon yang akarnya menghujam kedalam tanah, batangnya menjulang kuat, dan diantara daunnya yang rimbun akan dihasilkan buah akhlaq dan amal yang manis rasanya. Maka inilah saatnya memperkokoh iman kita. Mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan yang akan selalu berputar dalam catatan kehidupan kita.

2. Keikhlasan yang Sungguh-sungguh

" Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus."

(Al Bayinah : 5). Orang mukmin yang lurus adalah jika pendorong agama didalam hatinya bisa mengalahkan pendorong hawa nafsu, porsi akhirat bisa mengalahkan porsi dunia, mementingkan apa yang ada disisi Allah dari pada apa yang ada disisi manusia, menjadikan niat, perkataan dan amalnya bagi Allah, menjadikan shalat, ibadah, hidup dan matinya bagi Allah, Rabb semesta alam. Inilah ikhlas.Memang bukan hal yang mudah untuk diamalkan, tapi keikhlasan adalah landasan dari amal yang kita kerjakan. Bukankah kita tak ingin sekedar menabung kesia-siaan ?

3. Tekad yang kuat tanpa rasa takut

(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan." (Al Ahzab : 39). Saatnya untuk membangkitkan hamasah (semangat) dan azam dalam hati kita. Untuk tetap istiqomah dan memperbaiki diri agar menjadi insan-insan yang unggul dan bermanfaat bagi sesamanya.Tanpa tekad yang kuat jangan berharap kita akan dapat berubah dan meraih kemenangan.

4. Usaha yang berkesinambungan

Salah satu yang harus dipenuhi dalam mewujudkan misi kita ialah tidak mengenal rasa jenuh dan malas. " Dan katakanlah :"Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, …" (QS At Taubah : 105)

Kemalasan adalah faktor terbesar dari diri kita yang telah begitu lama membuat kita lalai dan terbuai. Padahal tiap detik yang kita lalui akan selalu tercatat dalam kitab amalan kita. Akan ada masa pertanggungjawaban, siapkah kita ,apa yang akan kita katakan saat Allah bertanya untuk apa masa mudamu digunakan ?

5. Pengorbanan

Pengorbanan adalah sesuatu yang wajar sebagai bukti kecintaan kita pada Allah. Harta, jiwa, raga dan segala macam pengorbanan menjadi konsekuensi yang logis bagi orang yang sedang gila cinta. Adik-adikku,karena itulah besar kecil pengorbanan seorang mukmin juga menjadi tolak ukur seberapa besar cinta dan keimanannya pada Allah dan Rasulnya.

Pada dasarnya kelima kriteria di atas merupakan ciri khas orang-orang yang menepati janjinya kepada Allah. Ingatlah, sesungguhnya landasan iman adalah jiwa yang suci. Landasan keikhlasan adalah hati yang jernih. Landasan tekad adalah semangat yang kuat membara. Landasan usaha ialah kemauan yang keras dan landasan pengorbanan adalah aqidah yang kokoh.

Menurut Syeikh Dr.Yusuf Al Qardawi, pemuda muslim harus selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal. Tidak menerima apa adanya dan merasa puas dengan keadaan sekarang. Di dalam islam diajarkan untuk selalu meraih keberhasilan, baik untuk urusan dunia maupun urusan akhirat.

Pemuda muslim juga dituntut untuk selalu bekerja sama (berjama’ah), dalam kerja da’wah untuk menyebarkan syi’ar islam. tugas da’wah adalah kewajiban untuk semua muslim dan merupakan tugas besar yang tidak akan mampu dilakukakan dengan bersendirian. Maka sangat dibutuhkan penyatuan barisan dan gerakan secara bersama. Berjama’ah juga mampu menguatkan pemuda muslim pada ketaatan kepada Allah SWT dan dijauhkan daripada maksiat serta godaan syaitan.

Selain itu pemuda muslim sudah sepatutnya mencontoh pemuda muslim terdahulu, yaitu para pemuda cemerlang di zaman Rasulullah SAW maupun sesudahnya. Para pemuda terdahulu berlomba-lomba untuk berkorban serta menyumbangkan jasa untuk pengembangan da’wah islam. Pada usia sangat muda mereka sudah mampu memimpin pasukan dan mampu menaklukkan di berbagai wilayah di dunia. Misalnya, Musailamah bin Abdul Malik mampu menaklukkan China, Muhammad bin Qasim bin Muhammad menaklukkan India, Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziad menaklukkan Andalusia.

Apabila semua pemuda muslim telah menyadari serta mau memulai langkah ke arah kebangkitan maka kegemilangan islam mendatang tinggal menunggu waktu.

Kekuatan Pemuda

Pemuda mempunyai potensi besar untuk perubahan. Maka sangat sesuai apabila tugas tugas besar diamanahkan ke tangan para pemuda. Sejarah telah membuktikan betapa para pemuda telah mampu mensukseskan berbagai agenda besar serta mampu mewarnai dunia. Kalau kita perhatikan dalam sirah nabi misalnya, Rasulullah SAW dalam memulai agenda da’wahnya dengan target para generasi muda atau pun pemimpin. Dengan cara itu beliau telah mampu membina asas perjuangannya dengan dukungan para pemuda. Sehingga hasilnya benar-benar luar biasa, da’wah islam mampu tetap kokoh dari pada tekanan dan penindasan. serta tetap teguh walaupun diperangi dari dalam oleh kaum kafir Quraiys dan kaum munafik Yahudi, dan serangan dari luar yaitu kerajaan Parsi dan Romawi.

Saatnya Untuk Bangkit

Saatnya generasi muda islam untuk segera bangkit, karena para pemuda muslim mempunyai tanggung jawab besar untuk memulai perjuangan. Sudah terlalu lama umat islam berada dalam kemunduran. Umat islam sudah tidak sepatutnya untuk tetap terlena, umat islam harus menyiapkan segalanya untuk bangkit. Diantaranya tentu saja harus berkaca dari pengalaman sejarah, seperti bagaimana generasi terdahulu mampu mencapai kemenangan dan kegemilangan. Semangat juang untuk mengangkat kalimatullah harus kembali dihidupkan pada diri setiap pemuda muslim.

Para pemuda muslim tidak perlu ragu terhadap keberhasilannya, karena Alllah telah menjanjikan kejayaan bagi umat islam, hanya saja waktunya yang belum diketahui. Namun pasti cepat atau lambat kejayaan islam akan tercapai. Pemuda muslim harus selalu ingat bahwa Allah akan selalu menolong mereka selama mereka mau menolong agama Allah. Sebagaimana yang dinyatakan di dalam al Qur’an: "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS.Muhammad: 7)

Pemuda Islam adalah pemuda harapan
Yang dengan tangannya lahir sebuah kejayaan
Menapak kehidupan dengan cahaya iman
Bergerak ke depan raih kebangkitan islam

Kita adalah singa-singa Ar-rohman
Hancur binasa musuh berbisa

Kita pejuang pembela kebenaran
Lepas belenggu runtuhkan angkara murka

Semangatmu bagai api menyala
Tergugahlah jiwa tuk turut berjuang

Pandangan matamu tebarkan cahaya
Hapus angan-angan raih kemenangan..raih kemenangan

Bangkitlah hai pemuda Islam
Kau tunas harapan penuh penantian
Wujudkanlah cita dan impian
dengan kekuatan kita kan berjaya

Bergerak ke depan raih kemenangan..
raih kemenangan..raih kemenangan!

- Ar Ruhul Jadid-

Sepuluh Risalah Pemuda

1. Memahami Islam

· Mustahil pemuda dapat memuliakan Islam kalau mereka sendiri tidak memahami Islam (35:28, 58:11)

· “Siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat kebaikan, maka dipandaikanlah dalam agama.” (H.R. Bukhari-Muslim)

· “Dunia ini terkutuk dan segala isinya terkutuk kecuali dzikrulloh dan yang serupa itu dan orang alim dan penuntut ilmu.” (H.R. At Tirmizi)

2. Mengimani segenap ajaran Islam

Iman kepada Allah dan Rasul-Nya pada hakikatnya merupakan sebuah sikap mental patuh dan tunduk (23:51). Tunduk patuh berlandaskan cinta kepada-Nya (2:165) dan ittiba’ (mengikuti) rasul-Nya (3:31, 53:3-4).

3. Mengamalkan dan mendakwahkan Islam

· Ciri orang yang tidak mengalami kerugian (khusrin) dalam hidup adalah senantiasa mengamalkan dan mendakwahkan Islam (103:1-3, 41:33, 3:110, 9:71, 5:78-79).

· “Barang siapa menyeru kepada kebaikan maka ia akan memperoleh pahala sepadan dengan orang yang mengerjakannya.” (H.R. Muslim)

4. Berjihad dijalan Islam

Jihad adalah salah satu hal yang diwajibkan Allah kepada kaum muslimin. Said Hawa membagi jihad menjadi lima macam :

a. Jihad Lisaani, menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang kafir, munafik dan fasiq yang disertai dengan hujjah (argumentasi) yang dicontohkan oleh Nabi SAW. (5:62)

b. Jihad Maali atau jihad dengan harta (49:15, 9:111). Jihad dengan harta merupakan bagian vital bagi jihad yang lainnya, karena dakwah memerlukan sarana dan prasarana.

c. Jihad Bilyad wan nafs atau jihad dengan tangan/kekuatan dan jiwa (22:39, 2:190, 8:39, 9:36). Termasuk dalam jihad ini adalah menentang orang kafir, berusaha mengusir mereka dari bumi Islam, memerangi kaum murtad dalam negeri Islam, melawan pemberontakan atau pembangkangan atas negara Islam.

d. Jihad Siyaasi atau jihad politik.

e. Jihad Tarbawi/ta’limi, yakni bersungguh-sungguh mengajarkan, menyampaikan ilmu dan mendidik orang-orang yang ingin memahami Islam (3:79)

5. Sabar dan istiqomah di atas jalan Islam (21:83-85, 38:41-44, 37:100-107, 21:68-69, 71:5-9)
Keimanan harus dilanjutkan dengan kesabaran dan istiqamah. “Keyakinan dalam iman haruslah secara bulat dan kesabaran itu setengah dari iman.” (H.R. Abu Nu’aim)

6. Mempersaudarakan manusia dalam ikatan Islam

Pemuda seharusnya berperan dalam menjalin ukhuwah islamiyah sesama muslim (8:63, 59:9). “Setiap mukmin yang satu bagi mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, antara satu dengan yang lainnya saling mengokohkan,” (Al hadist)

7. Menggerakkan dan mengarahkan potensi umat Islam

Potensi umat Islam perlu diarahkan ke dalam amal jama’i secara efektif dan efisien (3:146)

8. Optimis terhadap masa depan Islam

Pemuda Islam tak boleh memiliki jiwa pesimis. Sebaliknya, harus optimis akan hasil perjuangan dan pertolongan serta balasan dari Allah SWT. Hanya orang kafirlah yang memiliki sifat pesimis (12:87, 15:56).

9. Introspeksi diri (muhasabah) terhadap segala aktivitas yang telah dilakukan.

· Introspeksi dan evaluasi dimaksudkan agar pemuda tidak mengulang kesalahan yang sama di hari mendatang, tidak terjebak dengan permasalahan yang sama dan mampu memperbaiki diri ke arah yang lebih baik (13:11).

· “Seorang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap dengan amal sebagai bekal untuk mati.” (H.R. At Tirmizi)

10. Ikhlas dalam segenap pengabdian di jalan Islam

· Memurnikan niat karena Allah dalam ibadah, dan jihad merupakan masalah fundamental agar amal itu diterima sekaligus sukses.

· “Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanya karena orang-orang yang lemah di antara mereka yaitu dengan dakwah, shalat dan ikhlas mereka,” (H.R. An Nasai dari Sa’ad bin Abi Waqash)

Permasalahan Yang Terjadi Pada Pemuda Saat Ini Diantaranya adalah:

1. Lemahnya Aqidah

Aqidah dalam agama Islam adalah Pondasi awal berdirinya bangunan Islam, Ketika Aqidahnya lemah maka bangunan tersebut juga akan lemah. Pemahaman terhadap Aqidah ini akan menjadikan Pemuda Islam yakin terhadap kesempurnaan pedoman hidup yang bersumber dari Allah SWT tersebut, yang meliputi semua waktu, ruang dan sisi kehidupan manusia. Dari pemahan Aqidah ini pula setiappemuda akan paham tentang tujuan hidup didunia yang diamanahkan oleh Allah,Loyalitas (Wala’) yang harus diberikan, dan penempatan Ilah (pengibadahan) yang sebenarnya.

2. Tarbiyah (Pendidikan) Islam yang lemah

Dalam diri manusia terdapat kecenderungan kepada kebaikan dan kesesatan dan karena kegoismean manusia maka mereka kadang tidak menyadari dengan apa yang dilakukannya (selalu merasa benar), sehingga tanpa disadarinya dia sudah jauh dari kebenaran tersebut. Agar terhindar dari itu semua maka diperlukan tarbiyah (pendidikan) yang berfungsi mengarahkan, membangun, menjaga dan memelihara jiwa untuk senantiasa berjalan pada jalur yang benar /tidak menyimpang dari kebaikan tersebut (agama Islam) dan senantiasa berhubungan terhadap Islam.

3. Tsaqofah (Wawasan) ke Islaman sangat lemah

Sebenarnya wawasan Islamiyah inilah yang akan menggerakkan diri setiap Muslim untuk tidak memikirkan diri sendiri dan bisa bersikap kritis. Orientasi pemikiran yang hanya untuk diri sendiri akan berakibat seseorang dalam kelemahan, tidak bergerak, tidak produktif, tidak inovatif dan mengalami kebuntuan ide dan kerja. Wawasan yang harus ditumbuhkan dalam diri tiap muslim adalah adalah wawasan yang luas yang meliputi wawaasan pemikiran, operasional, maupun wawasan perasaan, yang akan menggerakkan hatinya terhadap nasib saudara-saudaranya ditempat lain. Wawasan yang sempit hanya akan membuat orang akan lebih cepat frustasi dan putus asa.

4. Da’wah Islam yang lemah

Sebagai konsekunsi yang logis ketika keran demokrasi dibuka adalah masuknya semua ideology kedalam masyarakat. Dan dari idiologi yang berkembang maka dapat dipisahkan kedalam dua kutub yaitu kutub kebaikan dan kutub kesesatan, diantara kutub tersebut saling tarik menarik untuk menggaet dan mempengaruhi umat.Siapa yang paling agresif dialah yang akan bisa cepat diterima oleh masyarakat. Keduanya saling tarik menarik.

5. Organisasi Keislaman yang lemah

Umat Islam diwajibkan untuk selalu hidup kolektif maksudnya selalu berhubungan dengan Umat Islam yang lain karena dengan hidup secara kolektif setiap individu akan dapat bekerja sama dan sama bekerja sehingga membawa pengaruh psychologis yang dalam karena masing-masing merasakan bahwa ia mempunyai teman yang mau menasehati dirinya dan mengingatkannya. Menumbuhkan rasa simpati dan cinta, tidak menyia-nyiakan teman, bahkan menambah semangat karena ia tidak sendirian didalam hal kebenaran.

6. Akhlaq

Melihat perkembangan Ummat Islam terutama di Indonesia tergambar dengan jelas betapa merosotnya akhlaknya sebagian ummat Islam. Dekadensi moral terjadi terutama dikalangan remaja. Sementara pembendungannya masih berlarut-larut dan dengan konsep yang tidak jelas. Rusaknya moral ummat tidak terlepas dari upaya jahat dari pihak luar ummat yang dengan sengaja menebarkan berbagai penyakit moral dan konsepsi agar ummat loyo dan berikutnya tumbang. Sehingga yang tadinya mayoritas menjadi minoritas dalam kualitas. Keadaan semakin buruk ketika pihak aparat terlibat dan melemahnya peran ulama` dan tokoh masyarakat. Padahal nilai suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas akhlak- nya seperti dikemukakan penyair Mesir Syauki Bik, "Suatu bangsa sangat ditentukan kualita akhlak-nya, jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut."

Nasihat Bagi Pemuda Muslim dan Penuntut Ilmu

Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kpd Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yg menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kpd Allah Tabaarakan wa Ta’ala (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani) seperti :

1. Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata ha krn ikhlas kpd Allah Jalla Jalaluhu, dgn tdk menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yg Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.

“Arti : … Allah akan meninggikan orang-orang yg beriman di antara kamu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat …?” [Al-Mujaadilah : 11]

2. Menjauhi perkara-perkara yg dpt menggelincirkanmu, yg sebagian ” Thalibul Ilmi” (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya. Diantara perkara-perkara itu :

· Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.

· Mengeluarkan fatwa untuk diri dan untuk orang lain sesuai dgn apa yg tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendpt-pendpt) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yg telah meninggalkan “harta warisan” berupa ilmu yg menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yg bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yg sangat gelap gulita.

Kita semua sesama umat muslim adalah saudara, maka janganlah kita sampai terpecah belah karena perbedaan pendapat, karena perbedaan pendapat itu sebenarnya adalah sebuah rahmat, namun jangan dijadikan untuk sebuah perdebatan. Jangan sampai terjadi perdebatan diantara kita umat Islam. Karena dengan perdebatan itu akan menimbulkan perpecahan sesama kita. Semoga bermanfaat bagi kita semua …

Wallahu’alam …

Kasmita Fikar

Source: berbagai sumber bacaan, dll

Monday, 10 May 2010

"Senyuman, Hadiah yang Paling Berharga"


Terkadang hadiah yang paling berharga dan berkesan adalah senyum dan kata-kata yang baik lagi santun.

Ketika Rasulullah mengajak para sahabatnya untuk saling memberikan hadiah, dengan tujuan untuk menghilangkan permusuhan atau kemarahan diantara mereka sehingga kemudian mendatangkan persahabatan dan kecintaan. Beliau bersabda: Saling berjabat-tanganlah kalian, maka akan hilang kedengkian, dan saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai. Sesungguhnya, manusia dengan tabiatnya, merasa bahagia ketika mendengar ada orang yang memujinya atau mengkhususkannya, ataupun menyanjungnya dengan sanjungan yang layak, atau bila ada orang yang menghormati dirinya. Maka dia akan merasa dianggap harga dirinya, dan akan bertambah rasa saling mencintai antar sesama.

Sesungguhnya hadiah, adalah satu dari sekian banyak sarana untuk menciptakan suasana yang bermakna pujian, sanjungan, dan penghormatan diantara sesama, sebab dengan itu keinginan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan dari sesama kita bisa tercapai Misalnya dari ketetanggaan, kita memberikan hadiah dengan penuh senyum dan ucapan-ucapan yang santun akan menggenapkan maksud dan tujuan yang pada gilirannya akan menambah kedekatan hubungan kemanusiaan, dan semakin berkembang rasa cinta dan penghormatan.

Dan sesuai dengan apa yang dikemukakan psikolog, Sesungguhnya hadiah termasuk salah satu jenis solusi kejiwaan untuk mengobati kegersangan jiwa itu sendiri, dimana hadiah tersebut merupakan implementasi penghargaan, penghormatan, kekaguman kepada orang lain yang bermuara pada membahagiakan orang lain. Kalau hadiah itu diberikan kepada orang yang paling dekat kepada kita, seperti seorang suami kepada isteri, ataupun sebaliknya, atau seorang anak atau puteri kepada kedua orang tuanya atau pun sebaliknya, atau seorang sahabat atau kawan jauh, maka itu semua sangat bernilai dihadapan orang yang menerima hadiah.

Sesungguhnya, nilai hadiah bukanlah pada nilai nominalnya, melainkan pada kedudukannya yang bisa memaknakan perasaan kemanusiaan. Yang demikian krena manusia butuh kepada bantuan kejiwaan secara terus-menerus, baik dari orang di sekelilingnya, ataupun kerabat, dalam berbagai jenis hadiahnya. Contohnya: ketika mengunjungi orang sakit disamping memang hal itu wajib, akan tetapi dengan memberikan hadiah, … kata-kata yang memotivasinya adalah hadiah, …surat-menyurat adalah hadiah, … dan hadiah adalah bermacam-macam. Sesungguhnya hadiah yang baik akan melanggengkan persahabatan, dan orang yang menerima hadiah pun menganggapnya sebagai sesuatuyang indah. Orang yang memberinya pun akan bahagia karena bisa memberikan sesuatu yang berharga kepada sahabatnya. Sesungguhnya hadiah merupakan solusi terhadap segala problematika persahabatan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dimana ia bisa menambah kuat ikatan kekerabatan, antara pemberi dan penerima hadiah.

Oleh karena itu, sudah semestinya, kita semuanya, yang besar maupun kecil untuk membiasakan diri untuk selalu berbuat baik kepada sesama. Kita memberinya hadiah, ataupun kenang-kenangan pada berbagai kesempatan yang ada dan kita tambahkan dengan dua hadiah lainnya, yaitu senyum yang ikhlas dan ucapan yang santun yang keduanya tidak perlu membeli.

Pererat Ukhuwah Dengan Ucapan Salam


Salam adalah sapaan Nabi Adam ‘alaihis salam dan anak turunannya

Ucapan salam “السلام عليكم” adalah ucapan selamatyang telah diajarkan sejak nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan.Kemudian ucapan salam ini menjadi kalimat sapaan bagi seluruh anakturunannya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ قَالَ: اِذْهَبْفَسَلِّمْ عَلَى أُولـَٰئِكَ النَّفَرِ- وَهُمْ نَفَرٌ مِنَ المْلآئِكَةِجُلُوسٌ - فَاسْتَمِعْ مَا يُجِيْبُوْنَكَ فَإِنَّهَا تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ، قَالَ: فَذَهَبَ. فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَقَالُوْا: السَّلاَمُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ. قَالَ: فَزَادُوْهُ وَرَحْمَةُ اللهِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Ketika Allah subhanahu wata’ala menciptakan Adam ‘alahis salam,Allah subhanahu wata’ala berfirman kepadanya: “Pergilah engkau danberikanlah salam kepada mereka -yakni para malaikat yang ada disana-dengarkanlah apa jawaban mereka, karena itu adalah sapaanmu dan sapaananak turunanmu.” Maka Adam ‘alaihis salam mengucapkan kepada paramalaikat: “Assalamu’alaikum.” Mereka menjawab: “Assalamu’alaikaWarahmatullah.” Yakni mereka menambah dalam jawaban salamnya dengankalimat “Warahmatullah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini kita mendapatkan pelajaran bahwa sapaan dengan ucapan السلام عليكمadalah sapaan yang diajarkan oleh Allah subhanahu wata’ala secaralangsung kepada Adam ‘alahis salam, kemudian ucapan ini dijadikansebagai sapaan untuk seluruh anak turunannya.

Salam adalah sapaan khas umat Islam

Sapaan ini merupakan sapaan umat Islam yang beriman kepada Allah dan seluruh para Rasul-Nya.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, bahwa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam:

أَيُّ إِسْلاَمٍ أَفْضَلُ؟

“Bagaimanakah keislaman yang terbaik?”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

تُطْعِمُ الطَّعَامَ لِلْمَسَاكِيْنَ وَ تَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَ مَنْ لَمْ تَعْرِفْ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Engkau memberi makan orang miskin dan memberi salam kepada orang yang kau kenal maupun tidak kau kenal.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Salam mempererat ukhuwah

Dengan sapaan salam yang mengandung doa keselamatan, ikatan ukhuwahkaum muslimin akan semakin erat dan tumbuh rasa saling cinta sesamamereka.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْاوَلاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍإِذَا فَعَلْتُمْ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوْا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kaliantidak akan beriman hingga kalian saling cinta-mencintai. Maukah akutunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalianakan saling cinta-mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim)

Dengan hadits ini kita ketahui betapa besarnya peranan salam dalammembantu seseorang untuk masuk kedalam surga. Demikian juga dapat kitaketahui betapa besarnya peranan salam dalam mempererat ukhuwahislamiyah.

Tata cara salam

Dalam memberikan salam, kita diperintahkan untuk mengucapkan kalimatyang paling sempurna, yang akan mendapatkan nilai lebih sempurna puladi sisi Allah subhanahu wata’ala, yaitu السلام عليكم ورحمة الله وبركاته (“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”).

Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imran bin Hushain رضي الله عنهما, disebutkan bahwa ketika seorang shahabat datang mengucapkan Assalamu’alaikum, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya seraya berkata: “sepuluh.” Ketika ada shahabat lain datang dan mengucapkan Assalamu’alaikum Warahmatullah, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya dan berkata: “duapuluh.” Kemudian ketika datang shahabat yang ketiga dan mengucapkan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya dan berkata: “tigapuluh.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi, dan ia berkata: “Hadits ini hasan.” Asy Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Jami’ At Tirmidzi, hadits no. 2689)

Sedangkan ketika menjawab salam, kita diperintahkan untukmenjawabnya dengan yang lebih baik, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا (النساء: ٨٦)

“Apabila kalian disapa dengan suatu penghormatan, maka balaslahpenghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yangserupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (An Nisaa`: 86)

Memberi salam ketika masuk rumah

Diantara waktu diperintahkannya mengucapkan salam adalah ketika masuk rumah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوابُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىأَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (النور: ٢٧)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasukirumah-rumah selain rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salamkepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agarkalian (selalu) ingat.” (An Nuur: 27)

Memberi salam tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu pelan

Karena memberi salam adalah adab dan akhlak yang mulia, makajanganlah ucapan ini justru menjadi pengganggu orang yang sedang tidur.Oleh karena itu, ketika kita memberi salam jangan terlalu keras danjangan pula terlalu pelan hingga tidak terdengar.

Diriwayatkan dari Miqdad radhiallahu ‘anhudalam hadits yang panjang, diantaranya, ia berkata:

كُنَّا نَرْفَعُ لِلنَّبِيِّ نَصِيْبَهُمِنَ اللَّبَنِ. فَيَجِيْءُ مِنَ اللَّيْلِ فَيُسَلِّمُ تَسْلِيْمًالاَيُوْقِظُ نَائِمًا وَيُسْمِعُ اليَقْظَانَ. فَجَاءَ النَّبِيُّفَسَلَّمَ كَمَا كَانَ يُسَلِّمُ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Kami membawakan susu untuk Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam, kemudian datanglah seseorang ke rumah Rasulullah shalallahu‘alaihi wasallam pada waktu malam dan memberi salam dengan suara yangtidak membangunkan orang tidur tapi didengar oleh orang yang terjaga.Maka datanglah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan menjawabsalam dengan suara yang sama.” (HR. Muslim)

Dengan cara salam yang seperti ini kita tidak mengganggu tuan rumah.Apabila tidak mendapatkan jawaban sampai tiga kali, maka pulanglah,sesungguhnya yang demikian lebih mulia buat kita dan lebih baik buatmereka.

Memberi salam kepada kaum wanita

Jika tidak dikhawatirkan timbulnya fitnah atau kesalahpahaman,disunnahkan pula memberi salam kepada para wanita. Misalnya jika wanitatadi tidak sendirian -yakni sekelompok wanita- maka disunnahkan untukmengucapkan salam kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Asma` binti Yazid رضي الله عنها:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ مَرَّ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمًا وَعُصْبَةٌ مِنَ النِّسَاءِ قُعُودٌ فَأَلْوَى بِيَدِهِ بِالتَّسْلِيْمِ. (رَوَاهُ التِّرْمِذِي)

“Pada suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallamberangkat ke masjid dan melewati sekelompok wanita, maka beliau memberisalam kepada mereka.” (HR. At Tirmidzi; Asy Syaikh Al Albani menghasankannya dalam Jami’ At Tirmidzi, hadits no.2697)

Siapa yang memulai salam

Ketika bertemu dengan seorang muslim terkadang kita mengucapkansalam bersamaan pada saat ia mengucapkan salam. Atau sebaliknya kitamenunggu ia memberi salam, ternyata ia pun menunggu kita memberi salam.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita siapayang hendaknya memulai salam dalam hadits yang diriwayatkan oleh AbuHurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِيِّ وَالْمَاشِيُّ عَلَى القَاعِدِ وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيرِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Seseorang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalankaki, yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk, kelompoksedikit memberi salam kepada kelompok yang banyak.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Al Bukhari disebutkan:

وَ الصَّغِيْرِ عَلَى الْكَبِيْرِ

“Yang lebih muda memberi salam kepada yang lebih tua.”

Namun jika keadaan, jumlah dan umurnya sama, maka semulia-muliamanusia di hadapan Allah adalah mereka yang memulai salam. Sebagaimanadiriwayatkan oleh Abu Umamah bin ‘Ajlan radhiallahu ‘anhu, bahwasanyaRasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِاللهِ مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلاَمِ (روَاهُ أَبُو دَاوُدَ)

“Sesungguhnya semulia-mulianya manusia di hadapan Allah adalah barangsiapa yang memulai dengan salam.” (HR. Abu Dawud; Asy Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Sunan Abi Dawud, hadits no. 5197)

Diperbolehkannya mengirim salam kepada yang lain

Diriwayatkan oleh Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku:

إِنَّ جِبْرِيْلَ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Sesungguhnya Jibril menyampaikan salam untukmu. Aku berkata:Aku menjawab wa’alaihissalam warahmatullahi (dan baginya keselamatandan rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Diharamkannya memulai salam kepada orang kafir

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَتَبْدَءُوْا الْيَهُودَ وَلاَ الْنْصَارَىبِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيْتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيْقٍ فَاضْطَرُّوهُإِلَى أَضْيَقِهِ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Janganlah kalian mendahului salam kepada Yahudi dan Nashara.Jika salah seorang dari kalian bertemu dengan mereka dalam satu jalan,maka paksalah oleh kalian ke jalan yang paling sempit.” (HR. Muslim)

Adapun jika mereka (ahlul kitab) memulai salam -baik berupa doa keselamatan maupun doa kecelakaan- kepada kaum muslimin, maka jawablah wa’alaikum. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُوْلُوْا وَعَلَيْكٌمْ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Jika ahlul kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah: Wa’alaikum.”

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمُ الْيَهُودُ فَإِنَّمَا يَقُولُ أَحَدُهُمْ السَّامُ عَلَيْكَ فَقُلْ وَعَلَيْكَ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Jika seorang Yahudi menucapkan salam kepada kalian denganucapan assaamu’alaika (semoga kecelakaan atas engkau), maka jawablah:Wa’alaika (dan atasmu pula).” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam.

Sumber: ikhwanmuslim.or.id