Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Monday, 11 April 2011

Ciri Penduduk Surga



Suatu hari, saat duduk-duduk bersama para sahabat, Rasulullah SAW menatap dan menajamkan pandangannya ke arah ufuk bagai seseorang yang sedang menunggu bisikan atau kata-kata rahasia. Kemudian, beliau menoleh kepada para sahabat. Rasul bersabda, ''Sebentar lagi akan muncul ke hadapan tuan-tuan sekalian seorang laki-laki penduduk surga.''

Para sahabat pun menengok ke kiri dan kanan juga ke setiap arah untuk melihat siapakah kiranya orang berbahagia yang beruntung beroleh taufik dan karunia itu. Tak lama, muncullah di hadapan para sahabat itu Sa'ad bin Abi Waqqash RA.

Selang beberapa lama, Abdullah bin 'Amr bin 'Ash RA datang kepadanya meminta jasa baiknya dan mendesak agar menunjukkan kepadanya jenis ibadah dan amalan yang menyebabkannya berhak menerima ganjaran tersebut. Para sahabat sangat tertarik untuk mengetahui amalan yang menjadi kunci untuk memasuki surga. Secara ikhlas Sa'ad pun bercerita, ''Sesungguhnya tak lebih dari amal ibadah yang biasa kita kerjakan, hanya saja saya tak pernah menaruh dendam atau niat jahat terhadap siapa pun di antara kaum Muslimin.'' (Rijaal Haular Rasuul -KM Khalid).

Penduduk surga itu, Sa'ad bin Abi Waqqash, adalah seorang penunggang kuda yang gagah berani dalam menyertai setiap peperangan bersama gurunya yang begitu agung: Rasulullah SAW. Namun, ia juga orang yang demikian lembut hatinya, sehingga bila mendengar nasihat-nasihat dari Nabi SAW segera saja air matanya jatuh bercucuran membasahi janggutnya. Abdurrahman bin 'Auf RA pun menjulukinya sebagai 'singa yang menyembunyikan kukunya'.

Ia termasuk dalam sabiqunal awwalun (orang yang mula-mula memeluk agama Islam). Saat menerima Islam yang diajarkan Rasulullah SAW, Sa'ad masih berusia 17 tahun. Ia mendapat bimbingan langsung dari Nabi SAW sehingga menjadi pribadi yang kokoh dalam keimanan dan sangat penyayang kepada sesama kaum Muslimin. Berbagai ujian atas kemantapan imannya telah mewarnai kehidupannya.

Ujian terberat yang dirasakannya adalah keinginan ibundanya untuk menghalangi dirinya menetapi Islam. Sang ibu sampai melakukan aksi mogok makan untuk mendesak agar Sa'ad kembali menyembah berhala. Atas ujian itu, dia tetap mantap memeluk Islam. Kepada ibunya, dia berkata, ''Demi Allah, ketahuilah wahai Bunda. Seandainya Bunda mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, tidaklah ananda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apa pun. Maka terserah kepada Bunda, apakah Bunda mau makan atau tidak.'' Maka luluhlah hati ibundanya, setelah melihat kesungguhan anaknya itu.

Keteguhan imannya itu didukung langsung oleh Zat Yang Maha Menguasai Segala Sesuatu. Allah berfirman, ''Dan seandainya kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Aku, padahal itu tidak sesuai dengan pendapatmu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.'' (QS Luqman : 15).

Wednesday, 30 March 2011

Seraut Wajah Rasulullah


Dalam sebuah hadits, seorang sahabat berkata bahwa pada suatu ketika di malam purnama yang terang benderang, ia berkali-kali memandang antara wajah rasulullah SAW dan rembulan. Maka, didapatinya, bahwa wajah Rasul terkasih adalah lebih indah dari rembulan, subhanallah. Mahasuci Allah yang telah menempatkan kita di bumi-Nya yang terhampar luas. Mahaagung Ia yang memikulkan di atas pundak kita, amanah untuk menjadi pemakmur bumi, Maha Terpuji Keadilannya, yang telah memberi kita dua bekal utama, kitab yang berisi wahyu-wahyu-Nya, dan manusia yang menjadi rasul-rasul-Nya. Rasul adalah utusan Allah. Ia manusia biasa, sebagaimana juga yang lainnya.
Keberadaannya adalah agar manusia tahu, bagaimana mesti bersikap selama di dunia. Hidup kita, sesungguhnya adalah masalah. Ketika kita menerima kesepakatan dengan Allah SWT, untuk lahir ke dunia, maka masalah dimulai. Sepanjang hidup, kita dirundung olehnya. Bahkan kematian, bukanlah akhir dari masalah. Justru kematian adalah gerbang pembuka menuju masalah terbesar yang mesti kita hadapi, yaitu perhitungan dengan Allah, untuk ditentukan kemana kita menghabiskan waktu selamanya. Di neraka, lembah kebinasaan tak berkesudahan.
Hidup memang masalah. Banyak kesulitan melanda, tidak sedikit celah keputus-asaan menganga. Namun manusia beruntung, sebab Allah Mahaadil. Hidup memang susah, namun Allah membuatnya mudah, yaitu dengan mengutus Rasul-rasul-Nya. “Dan tidak kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam”. (Q.S. Al Anbia [21] : 107).
Kita yang hidup di akhir zaman, mendapat tantangan luar biasa berat. Melaksanakan amanah untuk menjadi khalufatu fil ardl, bagai menggenggam bara panas. Akan tetapi semua itu telah ada dalam perhitungan Allah, sehingga untuk hamba-hamba-Nya diakhir zaman, Allah utus seorang Rosul mulia, yang seluruh sifat yang ada pada Rosul-rosul sebelumnya. Kecerdasan Nabi Daud, ketabahan Nabi Ayyub, Ketampanan Nabi Yusuf, kedermawanan Nabi Ibrahim, dan seterusnya. Dialah Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT membuka kesempatan pada hamba-hamba yang ingin mendekat pada-Nya, melalui diri sang Rosul panutan umat. Semakin mirip yang hamba lakukan dengan Rosululloh, maka dekat kedudukan dia dengan Allah. Sebab memang untuk itulah Rosul diutus. Buat menjadi contoh, bagaimana semestinya bersikap.Agar dapat dengan Allah, agar hidup menjadi ringan, meski syarat akan beban. Allah SWT dalam hal ini menjelaskan dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya Rosul Allah itu menjadi ikutan (tauladan) yang baik untuk kamu dan untuk orang yang mengharapkan menemui Allah di hari kemudian dan yang mengingati Allah Sebanyak-banyaknya.” {Q.S. Al Ahzab[33]:21}.
Maka, mengenal Rosululloh, adalah kekayaan yang tak ternilai harganya bagi kita. Rosululloh sungguh-sungguh dicipta oleh Allah untuk menjadi tauladan. Diamnya, pembicaraannya pula tindakan-tindakannya, dari ujung rambut sampai pangkal kakinya, semuanya pelajaran, seluruhnya adalah referensi berharga pembawa jalan keselamatan bagi yang mengikutinya.
Rasulullah, amat pemurah akan senyum. Seorang sahabat mengatakan bahwa tak pernah Rasulullah memandang (tentu saja sahabat yang bercerita ini adalah dari kalangan lelaki, sebab Rasulullah amat menjaga diri dari perempuaan non muslim,sekalipun hanya dari melihatnya) atau mendatanginya, melainkan senantiasa dengan tersenyum. Bibir tipisnya senantiasa menyungging indah, lahir dari keinginan tulus membahagiakan orang lain.
Wallahu’alam.

Source: KH Abdullah Gymnastiar


Thursday, 16 December 2010

Ubai bin Ka'ab


Bismillahirrohmanirrohiim ...

"Selamat Bagimu, Hai ABUL MUNZIR, Atas ilmu Yang Kamu Capai...!"

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menanyainya: "Hai Abul Munzir! Ayat manakah dari Kitabullah yang teragung?" Orang itu menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengulangi pertanyaannya: "Abul Munzir! Ayat manakah dari Kitabullah yang teragung?" Maka jawabnya: "Allah tiada Tuhan melainkan la, Yang Maha Hidup lagi Maha Pengatur " (Q·S. 2 al-Baqarah:255)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam-pun menepuk dadanya, dan dengan rasa bangga yang tercermin pada wajahnya, katanya: "Hai Abul Munzir! Selamat bagi anda atas ilmu yang anda capai!"

Abul Munzir yang mendapat ucapan selamat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mulia atas ilmu dan pengertian yang dikaruniakan Allah kepadanya itu, tiada lain adalah Ubai bin Ka'ab, seorang shahabat yang mulia ....

Ia adalah seorang warga Anshar dari suku Khazraj, dan ikut mengambil bagian dalam perjanjian 'Aqabah, perang Badar dan peperangan-peperangan penting lainnya. Ia mencapai kedudukan tinggi dan derajat mulia di kalangan Muslimin angkatan pertama, hingga Amirul Mu'minin Umar radhiyallahu 'anhu sendiri pernah mengatakan tentang dirinya: - "Ubai adalah pemimpin Kaum Muslimin... !"

Ubai bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu merupakan salah seorang perintis dari penulis-penulis wahyu dan penulis-penulis surat. Begitupun dalam menghafal al-Qur"anul Karim, membaca dan memahami ayat-ayatnya, ia termasuk golongan terkemuka.

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan kepadanya: "Hai Ubai bin Ka'ab! Saya dititahkan untuk menyampaikan al-Quran padamu". Ubai radhiyallahu 'anhu maklum bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanya menerima perintah-perintah itu dari wahyu Maka dengan harap-harap cemas ia menanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Wahai Rasulullah, ibu-bapakku menjadi tebusan anda! Apakah kepada anda disebut namaku?" Ujar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Benar! Namamu dan turunanmu di tingkat tertinggi…. ! Seorang Muslim yang mencapai kedudukan seperti ini di hati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pastilah ia seorang Muslim yang Agung, amat Agung ! Selama tahun-tahun pershahabatan, yaitu ketika Ubai bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu selalu berdekatan dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tak putus-putusnya ia mereguk dari telaganya yang dalam itu airnya yang manis. Dan setelah berpulangnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Ubai bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu menepati janjinya dengan tekun dan setia, baik dalam beribadat, dalam keteguhan beragama dan keluhuran budi ....Di samping itu tiada henti-hentinya ia menjadi pengawas bagi kaumnya. Diingatkannya mereka akan masa-masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masih hidup, diperingatkan keteguhan iman mereka, sifat zuhud, perangai dan budi pekerti mereka.

Di antara ucapan-ucapannya yang mengagumkan yang selalu didengungkannya kepada shahabat-shahabatnya ialah: "Selagi kita bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tujuan kita satu .... Tetapi setelah ditinggalkan beliau tujuan kita bermacam macam, ada yang ke kiri dan ada yang ke kanan…..!

Ia selalu berpegang kepada taqwa dan menetapi zuhud terhadap dunia, hingga tak dapat terpengaruh dan terpedaya. Karena ia selalu menilik hakikat sesuatu pada akhir kesudahannya. Sebagaimana juga corak hidup manusia, betapapun ia berenang dengan lautan kesenangan,dan kancah kemewahan, tetapi pasti ia menemui maut di mana segalanya akan berubah menjadi debu, sedang di hadapannya tiada yang terlihat kecuali hasil perbuatannya yang balk atau yang buruk ....

Mengenai dunia, Ubai pernah melukiskannya sebagai berikut: - "Sesungguhnya makanan manusia itu sendiri, dapat diambil sebagai perumpamaan bagi dunia: biar dikatakannya enak atau tidak, tetapi yang penting menjadi apa nantinya ... ?"

Bila Ubai radhiyallahu 'anhu berbicara di hadapan khalayak ramai, maka semua leher akan terulur dan telinga sama terpasang, disebabkan sama terpukau dan terpikat, sebab apabila ia berbicara mengenai Agama Allah tiada seorang pun yang ditakutinya, dan tiada udang di balik batu.

Tatkala wilayah Islam telah meluas, dan dilihatnya sebagian Kaum Muslimin mulai menyeleweng dengan menjilat pada pembesar-pembesar mereka, ia tampil dan melepas kata-katanya yang tajam: "Celaka mereka, demi Tuhan! Mereka celaka dan mencelakakan ! Tetapi saya tidak menyesal melihat nasib mereka, Hanya saya sayangkan ialah Kaum Muslimin yang celaka disebabkan mereka... !"

Karena keshalehan dan ketaqwaannya, Ubai selalu menangis setiap teringat akan Allah dan hari yang akhir....Ayat-ayat al-Quranul Karim baik yang dibaca atau yang didengarnya semua menggetarkan hati dan seluruh persendiannya.

Tetapi suatu ayat di antara ayat-ayat yang mulia itu, jika dibaca atau terdengar olehnya akan menyebabkannya diliputi oleh rasa duka yang tak dapat dilukiskan. Ayat itu ialah:

" Katakanlah: la ( Allah ) Kuasa akan mengirim siksa pada kalian, baik dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalan satu golongan berpecah-pecah, dan ditimpakan-Nya kepada kalian perbuatan kawannya sendiri " (Q·S. 6 al-An'am: 65)

Yang paling dicemaskan oleh Ubai radhiyallahu 'anhu terhadap ummat Islam ialah datangnya suatu generasi ummat bercakar-cakaran sesama mereka.

Ia selalu memohon keselamatan kepada Allah...dan berkat karunia serta rahmat-Nya, hal itu diperolehnya, dan ditemuinya Tuhannya dalam keadaan beriman, aman tenteram dan beroleh pahala....
Wallahu' alam ...

Sunday, 26 September 2010

Menangis Karena Shalat


Bismillah ...
setelah lama tak bersua, akhirnya ada kesempatan juga buat sharing lagi ...
sebuah cerita yang menurut saya sangat menarik, karena jujur saja saya mungkin jauh lebih rendah dari Isam, semoga sahabat semua lebih baik dari saya, Amin

Ada seorang ahli ibadah Isam bin Yusuf. Isam memiliki akidah yang mantap. Akhlak karimah merupakan aksesorinya. Dalam kesehariannya, dia bersikap zuhud, wara', dan senantiasa berusaha untuk menunaikan shalat sekhusyu mungkin.

Walaupun begitu, hati Isam tidak pernah terlepas dari perasaan khawatir. Dia khawatir akhlak dan ibadahnya itu tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah. Oleh karena itu, Isam ingin mengetahui kekurangan yang ada pada dirinya. Tujuannya sudah tentuingin memperbaiki kualitas akhlak dan ibadahnya. Untuk itu Isam selalu bertanya kepada orang yang dalam pandangannya lebih unggul, baik dalam hal akidah, akhlak, maupun ibadah.

Suatu hari, Isam menghadiri suatu majelis taklim yang diisi oleh Hatim al-Asam. Kesempatan ini senantiasa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kali ini, Isam bertanya tentang kekhusyuan shalat.
>Isam: "Kalau boleh tahu, bagaimana Anda mendirikan shalat?"
^Syaikh Hatim: "ketika waktu waktu shalat tiba, saya berwudhu, baik lahir maupun batin."

>Isam: "Apa maksud Syaikh, berwushu batin?"
^Syaikh Hatim: "Berwudhu lahir itu sudah biasa. Setiap Muslim tahu cara membasuh anggota badan saat wudhu. Wudhu batin artinya membasuh diri dengan tujuan tujuh perkara, yaitu :
1) Bertobat
2) Menyesali Dosa
3) Tidak Tergila-gila dengan Dunia
4) Menepis Keinginan untuk Mendapatkan Pujian Manusia
5) Menjauhi Hidup Bermegah-megahan
6) Meninggalkan Sifat Khianat
7) Menanggalkan Sifat Dengki

>Isam: "Setelah itu, apa yang Syaikh lakukan?"
^Syaikh Hatim: "Saya berangkat ke Masjid, kemudian menghadap kiblat. Saya berdiri dengan penuh kewaspadaan. Saya membayangkan Allah ada di hadapan saya, surga di sebelah kanan, neraka di sebelah kiri, dan malaikat maut di belakang. Saya juga membayangkan seolah-olah berdiri di atas Shirat. Hal yang penting, saya selalu menganggap setiap kali shalat sebgai shalat terakhir. Kemudian, saya membaca takbiratul ihram dengan sebaik-baiknya. Setiap bacaan shalat, saya pahami dengan baik. Saat ruku' dan sujud, saya bersikap tawadhu (Merendahkan diri (tawadhu’) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya). Memasuki tasyahud, hati saya penuh dengn pengharapan. Terakhir, saya mengucapkan salam dengan tulus. Selama 30 tahun, saya mendirikan shalat seperti itu."

Setelah mendengar pemaparan tersebut, Isam menangis sejadi-jadinya. ternyata shalat yang dilakukan selama ini belum ada apa-apanya dibanding dengan Syaikh Hatim. Besok dan seterusnya, saya harus shalat lebih baik lagi! gumamnya dalm hati.

Semoga menjadi inspirasi bagi saya ataupun sahabat, cz semuanya kebanyakan ditujukan untuk perbaikan saya sendiri. Saya share d blog siapa tahu ada yang memiliki permasalahan tentang lahiriyah seperti saya, moga sedikit bisa membantu ...
Keep Hamasah Sahabat

source: Like Father Like Son (Mohamad Zaki Al-Farisi)

Tuesday, 20 July 2010

Orang Tua Yang Bijak


Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi,datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk rlahan. 'Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, 'ujar Pak tua itu.

'Asin. Asin sekali, 'jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau. Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu. 'Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.'Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, 'Bagaimana rasanya?' 'Segar,' sahut sang pemuda.

'Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?' tanya Beliau lagi. 'Tidak,' jawab si anak muda.

Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. 'Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi,tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.'

Beliau melanjutkan nasehatnya. 'Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.'

Tuesday, 13 July 2010

Kecerdasan emosional Rosulullah Muhammad SAW


Setiap kali Rosulullah hendak ke pasar Ukaz selalu melewati satu gang kecil yang merupakan jalan tembus terdekat ke pasar tersebut.

Namun di kiri-kanan gang tersebut banyak dihuni rumah petakan kaum yahudi. Mereka sering mencemooh, memaki, meledek, bahkan ada seorang yahudi kasar sering melempar Rosulullah SAW dengan kotoran.

Hampir setiap kali Rosul ke pasar, sapaan kasar, hinaan, dan lemparan kotoran mendarat di telinga dan wajah serta badannya. Namun karena mental seorang utusan Tuhan, maka sikap sabar dan senyum selalu menghiasai wajahnya.

Anehnya, justru sikap anaknya Fatimah az Zahra, para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar sangat prihatin dan emosional atas perlakuan Yahudi terhadap Rosulullah. Bahkan malaikat Izrail yang ditakdirkan tanpa emosipun ikut panas melihat perlakuan pemuda bergelar Al Amin
tersebut.

"Engkau kan Rosulullah, mengapa tidak marah dan membalas lemparan kotoran dan makian Yahudi itu?" demikian celoteh Fatimah as. Apa jawab Rosul: "Innahum ma laa ya'lamuun" (Sesungguhnya mereka tak tahu apa yang mereka kerjakan).

Sikap serupa disampaikan Abu Bakar Shiddiq, "Wahai Rosul, kalau Engkau berkenan, aku akan membalas sikap kasar mereka kepada Engkau." Jawab Rosul pun sama: "Innahum ma laa ya'lamuun".

Tak ketinggalan Umar bin Khattab yang mantan preman pasar Ukaz lebih tegas menyatakan: "Wahai Rosulullah, jika Engkau mengizinkan akan aku tebas batang leher yahudi brengsek yang sering melempari kotoran terhadap-Mu!" Rosul pun konsisten dengan jawabannya: "Innahum ma laa ya'lamuun".

Pernah suatu ketika Rosulullah SAW membersihkan kotoran bekas lemparan si Yahudi usil di bawah pohon dekat sebuah bukit, datang malaikat Izrail dengan wajah sedih bercampur geram. "Wahai Rosul, aku tak tega melihat perlakuan mereka terhadap Engkau. Jikalau Engkau berkenan akan aku balikkan bukit ini dan aku tumpahkan di atas kediaman mereka. Atau aku akan cabut nyawa mereka dengan cara yang paling menyakitkan," demikian pinta Izrail.

Tapi, itulah dia Muhammad SAW. Dengan kecerdasan emosional yang optimum tetap mengatakan "Innahum ma lla ya'lamuun".

Suatu hari Rosul kembali melewati gang yang sama menuju pasar Ukaz. Tapi hari itu Rosul tidak mendapati lemparan kotoran dan makian si yahudi yang sengit itu. Lalu Rosul bertanya kepada para tetangga Yahudi itu," Kemana saudaraku yang rajin menegurkan (baca: melempar kotoran) kala aku lewat di gang ini?"

Tetangga itu berkata: "Dia sedang sakit di ruang atas, badannya panas dan menggigil, dia seperti hendak berpulang karena sakitnya parah!" Lantas Rosul pun beranjak ke atas menemui Yahudi usil tersebut, ketika dihampiri Rosul si Yahudi ketakutan bukan main dan dengan tubuh gemetar dan keringat menjagung dia memohon: "Jangan, jangan kau sakiti aku, aku minta maaf atas keburukan perilakuku. Tapi bila Engkau hendak membalas dendam, aku akan pasrah menerimanya."

Rosul pun tersenyum dan mendekati si Yahudi sambil mengambil segelas air zam-zam, lalu air itu dibacakan doa untuk si Yahudi. "Minumlah ini air, Insya Allah kamu akan sembuh," ujar Rosulullah.

Kontan saja, setelah air diminum tubuh si Yahudi tampak lebih bugar dan sehat. "Kalau boleh aku minta maaf sekali lagi, tapi siapakah Anda hai Bapak?" Rosul pun menjawab: "Sayalah Muhammad, Rosul Allah yang ditugaskan untuk memperbaiki akhlaq!" Sejak saat itu
si Yahudi bertobat dan memeluk agama yang diajarkan Rosulullah. "Subhanallah, begitu agung akhlaq-Mu Ya Rosul," ujar Abu Bakar.

Di lain waktu, Rosulullah selalu memiliki kebiasaan jika hendak bepergian ke luar kota. Dia membawa empat bungkus gandum matang (menyerupai roti) untuk bekal perjalanan, dan membawa empat bungkus uang dirham untuk diinfaqkan kepada fakir miskin. Di perbatasan
kota ada seorang pengemis Yahudi tua, renta dan buta, yang selalu nyeracau dan memburuk-burukkan Muhammad SAW.

"Muhammad brengsek, Muhammad manusia kasar, Muhammad penipu, penyihir, gila. Muhammad akan kubunuh kau," demikian dia memaki Rosul.

Tapi setiap kali dicaci maki dan diumpat akan dibunuh, Rosul bukannya marah, malah sebaliknya tersenyum sambil mendekati sang Yahudi tua. Dikeluarkannya sebungkus gandum matang itu, lalu dihaluskan dan secara perlahan disuapkan gandum itu kemulut sang bapak tua. Tentu saja ceracau dan makian si kakek terhenti karena harus makan gandum yang sudah lembut, walau tak berucap terima kasih.

Kebiasaan itu hampir rutin dilakukan Rosulullah ketika hendak pergi ke luar kota, dan kebiasaan memaki dan nyeracau itu pula yang sering dilakukan si kakek tua.

Suatu hari, saat Rosul telah wafat dan khalifah Umar bin Khattab memimpin jazirah Arab, bertanyalah Umar kepada Fatimah az Zahra, anak Rosulullah. "Wahai Fatimah, amalan apa yang belum aku lakukan dari akhlaq mulia yang dilakukan Rosulullah?" Fatimah pun menjelaskan kebiasaan Rosul ketika hendak pergi ke luar kota selalu memberi suapan terhadap kakek Yahudi yang memakinya.

Maka pergilah Umar ke luar kota, betul saja, di perbatasan ada seorang kakek tua sedang nyeracau dan terus memaki Rosulullah. Karena kesal, gandum matang yang dibawanya langsung disumpalkan ke mulut sang kakek Yahudi, maka diamlah si kakek sambil menghabiskan gandum tersebut.

Setelah kenyang mengunyah sumpalan gandum matang itu, si kakek bertanya:"Rasanya anda bukan orang yang biasa menyapa saya dengan gandum halusnya, Anda siapa dan kemana orang yang selalu menyapa aku dengan kasih sayang itu?"

Umar dengan tegas berteriak: "Aku adalah khalifah Umar bin Khattab, dan orang yang selalu menyuapi kamu dengan lembut itu adalah orang yang setiap hari kamu maki-maki!". Terkesiap si kakek Yahudi sambil matanya berlinang dan diam beribu basa sekitar 30 menit, maka pada menit berikutnya dia menangis sejadi-jadinya dan menyesali perbuatannya.

"Ya khalifah, ampuni aku dan aku akan memeluk agama yang diajarkan Rosulmu," akhirnya si Yahudi tua pun tersungkur bersimpuh, menangisi kekasarannya terhadap Rosulullah.

Menyimak akhlaq Rosulullah yang mulia, kendati dimaki, dicaci, bahkan dilempari kotoran, maka kita patut bertanya atas sikap emosional sebagian besar kaum muslim dunia atas penghujatan karikatur yang ditampilkan Jillands-Posten di Denmark. Bahkan sikap menculik, membakar, menghancurkan dan memboikot sebenarnya tak akan menghentikan sikap usil mereka.

Justru sikap rasional dan sabar, terutama akhlaq mulia serta game of emotional yang matang dari Rosulullah akan membuat lawan menjadi segan. Sikap cerdas secara emosional dari Rosul patut ditiru agar pihak luar benar-benar salut dan menghargai kebesaran ajaran Rosulullah SAW!!!

Monday, 21 June 2010

Bercermin Pada Akhlak Rasulullah


BECOME A COOL GUYS....

Masa remaja adalah masa yang cukup penting untuk pembentukan karakter permanen. Masa ini merupakan masa peralihan antara usia anak-anak menuju usia dewasa, masa inilah yang paling berperan bagaimana kita mejadi manusia dewasa, dengan pandangan hidup dan karakter sedemikian rupa, sehingga nilai itu akan menjadi ke-khas-an atau menjadi indetitas yang akan dimiliki.

Dalam ilmu psikologi masa remaja disebut masa "topan dan badai", maksudnya adalah, disini para remaja akan merasakan suasana hidup yang cukup membingungkan, seperti menghadapi topan dan badai. Di masa penyesuaian ini dibutuhkan panutan atau idola yang akan menjadi dasar ataupun contoh bagi pembentukan karakter yang nantinya menjadi indetitas mereka.

Masa remaja terutama remaja awal memiliki pola pikir yang sederhana, cenderung memilih hal yang menurutnya mudah dilakukan. Hal yang sering dilakukan, bila mereka tidak punya dasar yang cukup kuat (diantaranya pendidikan orang tua) mereka cenderung tidak memperdulikan apakah sikap yang dilakukan baik atau buruk, yang terpenting bagi mereka adalah mereka bisa masuk dan merasakan apa yang ingin mereka capai (bagaimana rasanya bila mereka ada dalam dunia yang selama ini membuat mereka penasaran.

Dengan segala perasaan yang mereka rasakan dan cara pandang baru yang mereka miliki, para remaja akan merasa berbeda (atau bahkan hebat). Disaat seperti ini remaja biasanya lebih merasa nyaman bila berinteraksi dengan orang yang seumur, dengan asumsi merasa senasib, merasa lebih mengerti ataupun lebih dapat diharapkan untk membantu apa yang diinginkan. Inilah latar belakang mengapa anak remaja senang berkelompok atau membuat suatu "genk". Dalam "genk" itu biasanya mereka membuat suatu kesepakatan sebagai tanda kesolidan antar mereka, jika diantara mereka ada yang tidak mematuhi peraturan yang dibuat, biasanya akan ditinggalkan. Hal inilah yang juga menyebabkan seorang remaja melakukan suatu kesalahan yang disebabkan pengaruh teman-temannya, mereka lebih memilih ikut ajakan teman ketimbang tidak memiliki teman. yang berbahaya adalah bila kesepakatan itu bernilai negatif.

Latar belakang keluarga atau peranan pendidikan yang diberikan orang tua mereka bisa menjadi bekal bagi mereka untuk tidak mengikuti arus atau menghindari mengikuti ajakan temannya yang seharusnya tidak boleh dilakukan, bagi remaja yang berlatar belakang pendidikan keluarganya baik, mereka akan memiliki suatu pegangan ataupun bisa dikenal sebagai "berprinsip". Disinilah peran orang dewasa khususnya orang tua cukup berpengaruh dalam membantu mengarahkan ke tempat yang semestinya (mendidik).

Peran orang dewasa dalam membentuk karakter anak diantaranya mengenalkan seperti apa contoh panutan yang baik. Seperti yang kita semua ketahui manusia yang paling sempurna karakter dan kepribadiannya adalah Rosulullah SAW, beliaulah yang diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak bagi sekalian manusia. Dari mulai hal yang terkecil hingga hal-hal besar sekalipun, kita dapat melihat contoh akhlak baik yang ada dalam diri beliau. Disini artinya kita akan mengenalkan dan mengarahkan adik (sebagai remaja) untuk menjadikan sosok Rosul adalah yang perlu diteladani dan dijadikan panutan.


Hi... this is me!

Bagaimana membantu remaja untuk membentuk karakternya?
Diantaranya adalah:
- Mengenalkan tokoh yang tepat untuk menjadi panutan mereka (Rosul, para sahabat Rosul, dsb).
- Mengenalkan akhlak yang baik beserta efek terbaik yang akan mereka terima bila melakukannya (agar mereka mau melakukannya) juga yang akhlak yang buruk beserta efek terburuk yang akan mereka terima jika mereka berada didalamnya (agar mereka mau menghindar).
- Menjadi teman yang asyik yang mau mengerti keadaan mereka, sehingga mereka tidak canggung berinteraksi dengan kita dan mau menceritakan masalah yang sedang dialami. Ini membuat kita tahu keadaan mereka dan akan lebih bias mengontrol mereka dengan tepat.
- Membiasakan atau membawa mereka ke lingkungan yang kondusif yang sarat akan nilai agama.

Saat harus pacaran

Kenapa kata ini popular dikalangan mereka? Diantaranya rasa ingin coba-coba, kebutuhan akan "teman" yang senasib atau mau mengerti mereka, ingin selalu diistimewakan dan diperhatikan. ingin lebih diposisikan sebagai orang yang berbeda, orang hebat, orang yang keren, dsb.

Suatu saat saya sempat bingung ketika menghadapi pertanyaan seorang adik yang baru saja jadian dengan teman yang disukainya, akhirnya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki saya menjawab:
"cinta itu fitrah, bahkan dianjurkan oleh Allah SWT, karena begitu agungnya karunia Allah SWT yang satu ini, maka Allah batasi dengan kasih sayangnya (ayat-ayatnya) selanjutnya terserah adik, memangnya adik ingin fitrah itu tetap terjaga keagungannya atau memilih tidak?" saat itu merasa jawaban saya masih yang kaku bagi seorang adik (karena benar-benar belum berpengalaman dan ilmu sayapun mencukupi). Saya berfikir ketika mereka menanyakan itu bisa jadi sebenarnya belum tentu mereka bermaksud mencari makna atau pengertian hukumnya, tetapi justru mencari jawaban yang mendukung tindakan mereka (agar dibolehkan berpacaran). Saya ingin menghindari kesan bahwa hukum Islam iti otoriter, dan berfikir bagaimana memberikan suatu pengertian yang membuat mereka nyaman sehingga mereka mereka merasakan indahnya hukum islam. "tapi ka, saya suka banget ma dia, boleh kali diterima aja, toh kita ga ngapa-ngapain." Nah, ini pertanyaan klasik yang sering kita hadapi, (bukan berarti pengalaman lho...) saya berfikir semua orang akan merasa terguncang bila merasakan falling in love. Begitu juga walaupun dirinya seorang da'i, tapi tentu tidak masalah bila jatuhnya pada Allah SWT (itu bedanya, hehe...), karena itu seharusnya yang terjadi. Ketika saya coba bertawakal dengan jawaban saya tersebut, tiba-tiba terlintas pikiran betapa sayangnya mereka jika mereka mengambil jalan menghalalkan, dan naudzubillah bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Padahal timbulnya pertanyaan mereka bisa dikatakan sebagai bibit iman dalam hati mereka. Akhirnya saya bingung bagaimana agar bisa menjawab agar jawabannya tegas, tepat, adil, dan bijaksana, dan membuat mereka merasa nyaman juga termotivasi untuk mendalami Islam.

Masalah ini cukup sensitif, saya sempat berfikir takut sembarangan atau salah dalam membahasnya, sehingga kesan yang ditangkap adik tidak sesuai harapan. Bersyukur kemudian seorang sahabat mengemukakan pendapatnya tentang masalah ini. Prinsipnya adalah buat obrolan jadi sederhana, selanjutnya ajak adik bermain di wilayah logika sederhana. Misalnya tanyakan jika dia jadian kira-kira manfaat dan ruginya apa yang bakal didapat. Jika dia bilang ga bakal ngapa-ngapain, tanyakan kira-kira apa yang akan lakukan supaya pacaran jadi bermakna (?). Atau pertanyaan yang senada, intinya jadikan adik sebagai subyek untuk menggali pola pikir dan kesadarannya tentang pacaran. Dari sana bisa kita arahkan diskusi setelah dia mengutarakan opininya. Sehingga diharapkan ia dapat menyimpulkan sendiri bahwa pacaran tidak ada gunanya dan cenderung merusak. Setelah itu, baru masuk dari sisi agama, bahwa Allah SWT tidak mau hamba-Nya bergelimang dalam kesia-siaan. Karena itulah Islam memberi solusi yang mulia, yaitu nikah.

Jaga jilbabmu, dan Allah 'kan menjagamu.

Jilbab adalah indetitas muslimah shalihah, tetapi lebih dari itu Allah akan menjaga keamanannya.
"teh, gimana sebenarnya hukum berjilbab itu?". Awal mendengar pertanyaan itu, serasa hati ditetesi embun yang sejuk. Wah, subhanallah... jika adik kita bertanya seperti itu artinya sebuah cahaya mulai menyala dalam dirinya. Agar tidak padam mungkin kita bisa masuk ke penerapan Al-Quran (surat An-Nur 30-31, Al-Ahzab: 33 dan 59) tanpa kaku tentunya. Tapi bagaimana cara memberi tahu adik yang belum berfikir kearah sana? Sedih juga ya... tapi jangan putus asa, tentu jalannya adalah kita terus tambah ilmu kita sambil terus berusaha memasuki dunianya. Bisa diawali dengan mencoba menarik perhatiannya mulai dari yang sederhana (mengikuti pola pikirnya). Misalnya mengatakan betapa santun dan manisnya bila dia memakai jilbab. Atau mengaitkan fenomena (misalnya tentang pelecehan wanita) diantaranya disebabkan karena auratnya yang terbuka, dll. Selain itu juga kita bisa menjelaskan dampak baik dan buruknya dari berjilbab, bagaimana Allah melimpahkan rahmat dan hikmahnya bagi wanita yang berjilbab. Selanjutnya bisa masukkan hukum Islam (seperti tahapan penerapan hukum dari pacaran). Jangan lupa untuk bercerita misalnya tentang kegigihan orang yang mempertahankan jilbabnya didalam dan luar negri karena taatnya atas perintah Allah SWT.

Dan kaupun makin mempesona (dimata Allah SWT)

"hai anak adam (manusia) sesungguhnya kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dari pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian inilah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Agar mereka selalu ingat." (QS. Al-A'raf:26)
"ada dua golongan dari ahli neraka yang belum aku lihat sebelumnya. Pertama (orang) yang di tangan mereka ada cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul. Kedua, wanita yang berpakaian tetapi seperti telanjang (berpakaian tembus pandang) yang menggoncangkan hati yang melihatnya. Kepala (rambut) mereka seperti punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan memperoleh baunya karena jarak mereka dengan surga terlalu jauh." (HR. muslim dari Abu Hurairoh)

Monday, 10 May 2010

Keluarga Muslim



Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dasar dari seluruh elemen masyarakat adalah sebuah keluarga muslim. Pembinaan keluarga muslim berwujud pendidikan Islam dan pelaksana utama dari pendidikan ini adalah seorang ibu muslimah. Tegaknya sebuah keluarga muslim memberikan andil yang sangat besar bagi terlaksananya dakwah islamiyah. Islam memberikan tanggung jawab yang begitu agung kepada keluarga baik dia seorang ayah maupun ibu untuk memberikan pendidikan, pengetahuan, dakwah dan bimbingan kepada anggota keluarga. Pembinaan yang demikian inilah yang akan menyelamatkan dan memberikan penjagaan kepada diri dan keluarga sebagaimana perintah Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ


Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS at-Tahrim : 6 )

Dalam hal ini Ali -radhiallahu 'anhu- dan Ibnu Abbas -radhiallahu 'anhu- menyatakan "berikanlah pendidikan, ajarilah dengan ketaatan kepada Allah, serta takutlah dari kemaksiatan. Didiklah anggota keluargamu dengan dzikir yang akan menyelamatkan dari api neraka" ( Ibnu Katheer & At tabari).

Berkaitan dengan tanggung jawab keluarga muslimah ini Nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam- menerangkan secara umum tanggung jawab seorang pemimpin dengan sabdanya :


أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّا سِرَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


Artinya : "Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin, dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian. Pemimpin di antara manusia dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga serta anak-anak suaminya dan dia akan ditanya tentang mereka. Budak/ pembantu adalah pemimpin dari harta tuannya dan dia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah bahwa kamu sekalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang tentang kepemimpinannya" (HR Bukhari dan Muslim)

Apabila kita timbang tanggung jawab seorang suami dengan seorang isteri maka akan kita dapatkan bahwa tanggung jawab istri sangatlah besar. Karena dialah yang melahirkan sang anak, menyusuinya, dan menemani serta mendidik anak dari jam ke jam, hari ke hari. Bahkan ketika seorang anak masih balita, kemudian menginjak remaja dan menjelang dewasa, di dalam rumah maupun di luar rumah sang ibu senantiasa mewarnai bentuk kehidupan sang anak. Hingga mungkin sang ayah telah tiada maka ibulah yang tetap mendampingi putranya untuk menyongsong masa depan. Inilah hikmah diperintahkannya wanita untuk berada di rumahnya. Allah berfirman :


وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى


Artinya : "Dan hendaknya kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu." ( QS Al Ahzab : 33)

Pilar Peyangga Keluarga Islami

1. Iman dan Taqwa
Faktor pertama dan terpenting adalah iman kepada Alloh dan hari akhir, takut kepada Dzat Yang memperhatikan segala yang tersembunyi serta senantiasa bertaqwa dan bermuraqabbah (merasa diawasi oleh Alloh) lalu menjauh dari kedhaliman dan kekeliruan di dalam mencari kebenaran.

"Demikian diberi pengajaran dengan itu, orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia kan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia kan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan keperluannya." (Ath Thalaq: 2-3)

Di antara yang menguatkan tali iman yaitu bersungguh-sungguh dan serius dalam ibadah serta saling ingat-mengingatkan. Perhatikan sabda Rasululloh: "Semoga Alloh merahmati suami yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula istrinya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya. Dan semoga Alloh merahmati istri yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula suaminya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah).

Hubungan suami istri bukanlah hubungan duniawi atau nafsu hewani namun berupa interaksi jiwa yang luhur. Jadi ketika hubungan itu shahih maka dapat berlanjut ke kehidupan akhirat kelak. FirmanNya: "Yaitu surga 'Adn yang mereka itu masuk di dalamnya bersama-sama orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya." (Ar Ra'du: 23)

2. Hubungan Yang Baik
Termasuk yang mengokohkan hal ini adalah pergaulan yang baik. Ini tidak akan tercipt akecuali jika keduanya saling mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing.

Mencari kesempurnaan dalam keluarga dan naggotanya adalah hal mustahil dan merasa frustasi daklam usha melakukan penyempurnan setiap sifat mereka atau yang lainnya termasuk sia-sia juga.

3. Tugas Suami
Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu lemah secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan buntu.

Teralalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan membengkokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: "Nasehatilah wanita dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu nasehatilah dengan baik." (HR. Bukhari, Muslim)

Jadi kelemahan wanita sudah ada sejak diciptakan, jadi bersabarlah untuk menghadapinya. Seorang suami seyogyanya tidak terus-menerus mengingat apa yang menjadi bahan kesempitan keluarganya, alihkan pada beberapa sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi kebaikan niscaya akan banyak sekali.

Dalam hal ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber kebahagiaan itu berada. Alloh berfirman; "Dan bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Aloh menjadikannya kebaikan yang banyak." (An Nisa': 19)

Apabila tidak begitu lalu bagaimana mungkin akan tercipta ketentraman, kedamaian dan cinta kasih itu: jika pemimpin keluarga itu sendiri berperangai keras, jelek pergaulannya, sempit wawasannya, dungu, terburu-buru, tidak pemaaf, pemarah, jika masuk terlalu banyak mengungkit-ungkit kebaikan dan jika keluar selalu berburuk sangka.

Padahal sudah dimaklumi bahwa interaksi yang baik dan sumber kebahagiaan itu tidaklah tercipta kecuali dengan kelembutan dan menjauhakan diri dari prasangka yang tak beralasan. Dan kecemburuan terkadang berubah menjadi prasangka buruk yang menggiringnya untuk senantiasa menyalah tafsirkan omongan dan meragukan segala tingkah laku. Ini tentu akan membikin hidup terasa sempit dan gelisah dengan tanpa alasan yang jelas dan benar.